Untuk Kesejahteraan Masyarakat yang Berakar pada Seni dan Budaya
Manajemen Gedung Kesenian (GK) Rumentang Siang mengancam akan membubarkan diri. Hal itu disebabkan sejak tahun 2006, mereka tidak lagi mendapatkan kucuran dana operasional dari Pemprov Jabar. Sedangkan kucuran dana dari Pemkot Bandung terhenti sejak tahun 2007. Jika sampai akhir tahun 2008 kondisi ini tak berubah, manajemen GK Rumentang Siang akan membubarkan diri.
“Betapa berat kami harus bekerja tanpa dana operasional yang memadai, baik untuk gaji, perbaikan sarana dan prasarana, serta untuk menjalankan program kesenian yang telah kami rancang selama ini. Bubar adalah satu-satunya solusi yang terbaik bagi kami,” ujar Wakil Ketua GK Rumentang Siang, Tjetje Raska Mohamad, kepada “PR” di Jln. Baranang Siang No. 1 Bandung, Kamis (9/10).
JIKA Bandung hendak menahbiskan dirinya sebagai Kota Seni Budaya, setidaknya ada 3 syarat yang perlu terlebih dahulu dipenuhi. Keanekaragaman potensi budaya, adanya kegiatan festival seni budaya yang teratur (periodik), dan banyaknya tokoh seni dan budaya.
Demikian termaktub dalam Laporan Eksekutif Kajian Model Pengembangan Seni dan Budaya Daerah Kota Bandung (kerja sama kantor Litbang dengan PT Belaputera Interplan) Tahun 2005.
Arthur S. Nalan, Ketua Bandung Art Culture Council (BACC) Kota Bandung mengatakan, ketiga batasan itu perlu ditambahkan lagi dengan adanya gedung pertunjukan kesenian yang representatif. Maksudnya, Bandung semestinya memiliki ruang pertunjukan yang memadai dalam hal kapasitas penonton serta fasilitas penunjang lainnya.
SEBANYAK tiga puluh orang menandatangani manifesto. Mereka hadir dari beragam komunitas, yang ingin terlibat untuk menyelesaikan persoalan tentang sebuah babakan. Manifesto yang mereka tanda tangani sebagai penolakan terhadap rencana penggusuran Babakan Siliwangi.
Sebelumnya, puluhan anak-anak yang terbagi berbagai strata seperti murid sekolah menengah, home schooling, dan panti asuhan berkumpul di sekitar babakan yang rindang. Mereka mengunjungi beberapa petak rumah yang menjual lukisan. Tidak sekadar membeli, tetapi mereka belajar tentang lukisan. Salah satu semangat mereka adalah ingin pula bisa melukis di atas kanvas.
“Tempat ini memang menjadi tempat belajar anak-anak,” ujar Syarief Hidayat, Koordinator Sanggar Olah Seni (SOS) Babakan Siliwangi.
Last Comment